KAUM SOFIS DI ERA DEMOKRASI MASA KINI


sofis di indonesia

Oleh: Moh. Febri Rikza Azkal Umam

BismillahirRahmaanirRahiim

Mungkin kalian baru tau atau jarang melihat judul yang senada dengan artikel ini, dan kenapa saya buat judul seperti itu ?

Yaa… karena akhir - akhir ini saya melihat kondisi di Indonesia saat ini (yang sistemnya demokr@si), khususnya dunia politik, yang di dalamnya muncul pro dan kontra antar politisi, antara masyarakat dengan pemerintah, atau bahkan orang–orang di dalam pemerintahan itu sendiri.


Hal ini bisa terjadi, mungkin dikarenakan kurangnya pemahaman tentang  makna demokrasi sebenarnya dan bagaimana menjalankannya.


Arti Sofis

Dan hal itu juga meningatkan saya pada sejarah yang pernah saya baca mengenai ‘sekelompok orang pada abad ke 5 pertengahan di Athena’. Maka dari itulah saya membuat artikel ini.

Mungkin beberapa dari kita yang tau sejarah atau konsep dasar demokrasi, tentunya tidak asing dengan kaum sofis atau sofisme. Bagi yang belum tau, baca artikel ini mengenai kaum sofis. Dan bagi yang sudah tau, ada hal lain yang berkaitan dengan kaum sofis.

Secara etimologi, kata sofis berarti bijaksana, kebijaksanaan, berpengetahuan. Dahulunya gelar sofis merupakan semacam pujian kepada orang yang bijak atau berpengetahuan dalam hal tertentu. Tetapi gelar atau julukan tersebut berubah, yang awalnya sebagai pujian atau gelar yang ‘wow’ lalu berubah menjadi sebuah kata ejekan. Dalam bahasa Inggris misalnya, kata “sophist” diartikan sebagai seorang yang menipu melalui argumentasi-argumentasi yang tidak sah.

Hal tersebut dikarenakan  dahulu sekitar abad ke 5 pertengahan di Athena (ibu kota Yunani pada saat itu), setelah perang  dengan Persi, Athena pada saat itu berkembang pesat dalam hal ekonomi dan politik. Ternyata dengan masa keemasan tersbut, Athena juga butuh perkembangan dalam bidang pendidikan.

Pada masa itu, kemampuan berbicara dengan baik, meyakinkan orang di depan publik dengan retorika yang khas merupakan pendidikan yang sangat diutamakan. Karena hal itu juga berpengaruh pada kemajuan politik, yakni dengan sistem demokrasi di Athena. Dari sinilah kaum sofis mengambil peluang untuk mengajarkan kepada mereka mengenai pendidikan itu.



Mereka (kaum sofis) merupakan orang-orang yang lihai, indah, dan menarik dalam berbicara. Mereka menggunakan kelebihannya itu untuk tujuan komersial, bukan untuk berfikir dengan tujuan mencari kebenaran, mereka meminta uang mengenai pengajaran yang mereka berikan.

Yang lebih kejam lagi, dahulu para sofis ini mulai masuk ke dalam negara/pemerintahan, untuk membenarkan perbuatan atau tindakan penguasa melalui argumennya .

Yang pada saat itu pula, Socrates hidup pada masa atau zaman yang sama dengan kaum sofis. Ia membantah dan menanyakan kepada mereka persoalan-persoalan yang radikal untuk dipertanyakan. Dikarenakan hal itu, ia dihukum karena menyesatkan para pemuda Athena dan hal lain yang dianggap kurang baik, selain itu ia juga dianggap telah melecehkan para dewa(kalau di zaman ini, Socrates bisa dikatakan sebagai oposisi).

https://www.pinterest.com/pin/137500594849711377/
Singkat kisah, akhir kehidupan dari seorang Socrates seperti yang diceritakan oleh Plato dalam bukunya yang berjudul “PHAEDO”, bahwa Socrates meninggal karena dihukum mati dengan meminum secangkir minuman beracun. Socrates menggunakan kematiannya sebagai pelajaran terakhir untuk murid-muridnya daripada melarikan diri.


________________________________________________________________


Berhubungan dengan era demokrasi saat ini, khususnya di Indonesia. Bagaimana dan siapa kaum sofis di Indonesia saat ini ?


Sofisme saat ini dipahami yang dipahami oleh kebanyakan orang ialah sebagai sesat pikir yang sengaja dilakukan untuk menyesatkan orang lain atau melakukan pembenaran dengan argumen yang aslinya tidak sah. Maka dari itu tak heran jika saat  ini ada seseorang yang mempertahankan argumen akan dicap sebagai sofis.

Padahal tidak seperti itu, jika kita kembali pada sejarah mengenai kaum sofis ini, maka kita akan tau asbabun nuzul dari istilah sofis. Sejarah singkatnya ialah, bahwa mereka  merupakan orang-orang yang menggunakan kelebihan (lihai, indah, menarik dalam berbicara) untuk membenarkan segala kebijakan penguasa demi tujuan komersil.
Berdasarkan kesimpulan sejarah itu, maka kurang tepat jika kita menuduh seseorang dengan istilah sofis dikarenakan orang yang kita cap sebagai sofis itu membenarkan argumennya (berargumen).

Lebih tepatnya kata sofis itu ditempelkan kepada orang yang berambisi membenarkan semua kebijakan penguasa (tidak memperhatikan baik atau buruk, benar atau salah) dengan tujuan komersil (meski tujuan tersebut tidak ditampilkan ke publik).


So, penggunaan istilah semacam itu paling tepat diletakkan pada orang yang pro dengan semua kebijakan pemerintah (tidak memperhatikan baik atau buruk, benar atau salah), bukan malah digunakan kepada semua orang, apalagi ditempelkan kepada anti rezim atau oposisi (padahal oposisi dalam Negara Demokrasi itu cukup penting, untuk mengendalikan / menyeimbangkan kebijakan - kebijakan penguasa).

Tapi, saat ini kita lihat di negera kita ‘terbolak balik’, absurd, dan hal ini merupakan salah satu yang menjadi pemicu turunnya indeks demokr@si di Indonesia (IDI). Sebenarnya  masih banyak hal lain yang menjadikan turunnya indeks demokr@si di Indonesia, namun saya tidak dapat menjelaskannya, karena topiknya hanya mengenai salah satu turunnya indeks demokr@si di Indonesia (IDI) .

Dari hal itu pula, saya pribadi melihat bahwa di Indonesia yang ‘katanya’ bersistem demokr@si tidak sepenuhnya mengimplementasikan budaya demokrasi, karena ada beberapa kejanggalan penerapan demokrasi di Indonesia ini.
Itulah analisis saya mengenai salah satu penyebab turunnya Indeks Demokr@si di Indonesia (IDI) .

ALLAHU ’ALAM _______

Comments

Popular posts from this blog

Persamaan Kuadrat Materi SMA (SBMPTN)

Hancurnya Utopis Komunis dengan Utopia Komunisme

Ekonomi Kapitalisme bagi Masyarakat : Kesejahteraan atau Keterlantaran ?